catrawarta.com — Seperti diketahui Al Qur’an menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia, sehingga siapa saja diperbolehkan membaca dan mempelajari kitab suci umat Islam ini. Tak salah bila kemudian kaum disabilitas juga turut bersemangat untuk bisa membaca Al Qur’an.
Di tengah suasana bulan Ramadhan yang penuh berkah dan pahala ini, penerima manfaat di Panti Pelayanan Sosial (PPS) disabilitas sensorik netra atau Panti Penganthi Temanggung, juga tak kenal lelah menjalankan ibadah secara khusus ini.
Anak-anak dan penyandang disabilitas netra aktif mengikuti tadarus Al-Qur’an menggunakan mushaf Braille, yang dilaksanakan pada malam hari maupun di berbagai kesempatan. Selain itu, mereka juga mendapat pelatihan pemulasaran jenazah. Kegiatan ini membuktikan, keterbatasan penglihatan bukanlah penghalang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Awalnya Sulit
Salah satu peserta, Nur Wahyu Setyanto, berbagi pengalaman belajar Al-Qur’an Braille. Ia mengaku pada awalnya sulit, namun dengan ketekunan dan izin Allah, perlahan mampu menguasainya. “Awal mula banyak hambatant, namun dengan ketekunan akhirnya berhasil,” katanya, Senin (9/3/2026).
Proses pembelajaran ini berbeda bagi setiap individu, ada yang memerlukan waktu enam bulan, satu tahun, bahkan hingga tiga tahun, tergantung kesungguhan masing-masing.
Kepala Panti Penganthi, Teguh Widianto, menjelaskan, tadarus Al-Qur’an Braille menjadi salah satu kegiatan utama Ramadhan 1447 H. “Melalui kegiatan ini, para penerima manfaat tetap dapat belajar membaca Al-Qur’an meskipun memiliki keterbatasan penglihatan,” katanya.
Para peserta dibimbing instruktur mulai dari tahap dasar menggunakan buku Iqra Braille. Setelah menguasai huruf dan bacaan dasar, mereka melanjutkan ke tingkat lebih tinggi, yakni membaca Al-Qur’an Braille secara penuh.
Selain itu, peserta juga dibimbing untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an secara bertahap agar pemahaman dan pelafalan semakin baik. Selama Ramadan, kegiatan keagamaan di PPS terus dilangsungkan secara rutin, seperti salat berjamaah dan kajian keagamaan. Harapannya, penyandang disabilitas netra dapat menjalani ibadah Ramadan dengan khusyuk sekaligus meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an.
Pemulasaran Jenazah
Pada bulan puasa ini, mereka juga mendapat pelatihan pemulasaran jenazah. Dalam kegiatan ini, peserta mempelajari tahapan dasar mulai dari memandikan, mensucikan, hingga mengafani jenazah sesuai syariat Islam. Seorang peserta, Imam, mengaku proses belajar ini tidak mudah karena harus mengandalkan sentuhan dan pendampingan instruktur tanpa penglihatan langsung.
Namun dengan bimbingan yang diberikan, para peserta tetap dapat mengikuti praktik dengan baik.
Guru pembimbing agama, Eko Yuwono, mengatakan, pelatihan ini bertujuan memberikan bekal keterampilan keagamaan. Peserta diajarkan menalkinkan orang sakit menjelang sakaratul maut dengan kalimat tauhid “La ilaha illallah”, kemudian dilanjutkan dengan praktik memandikan, mengafani, dan mensalatkan jenazah.

Dibayangi Ancaman AS-Israel, Mojtaba Khamenei Resmi Pemimpin Tertinggi Iran 