Warta

Kritik dan Lagu Dapat Tekanan, Termasuk Ketua BEM UGM

catrawarta.com — Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto mendapat ancaman penculikan usai melakukan kritik pada pemerintah. Ia mengirimkan surat kepada badan dunia UNICEF...

Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.(Sumber: ig tiyo ardianto)

catrawarta.comKetua BEM UGM, Tiyo Ardianto mendapat ancaman penculikan usai melakukan kritik pada pemerintah. Ia mengirimkan surat kepada badan dunia UNICEF dan menyampaikan laporan kegagalan pemerintah melindungi hak pendidikan warga negara Indonesia.

Ia mengirim surat usai tragedi bunuh diri anak SD yang berada dalam kemiskinan ekstrem. Anak minta pena dan kertas, sementara orang tua tak mampu membelikannya. Boro-boro membeli pena dan kertas, untuk makan saja mereka sangat susah.

Usai mengirimkan surat ke UNICEF, Tiyo mendapat ancaman dan intimidasi. Tak hanya satu-dua kali tetapi sering. Bahkan, ia mendapat ancaman penculikan dari nomor handphone yang tidak dikenalnya.

Ancaman penculikan mengingatkan masyarakat Indonesia pada peristiwa 1998 menjelang reformasi. Waktu itu, sejumlah aktivis mahasiswa, partai politik dan lainnya diculik. Sebagian pulang setelah mengalami penyiksaan.

Sebagian lainnya tidak kembali sampai sekarang. Ada pula yang ditembak dalam peristiwa berdarah di Semanggi, Jakarta. Namun sampai sekarang tidak ada proses hukum atas semua peristiwa yang masuk dalam kategori pelanggaran hak asasi manusia berat tersebut.

Peduli pada Bangsa Bukan Ancaman

Tiyo dalam pernyataan resminya mengungkapkan seseorang yang peduli pada bangsanya, apapun ekspresinya, tidak boleh dipandang sebagai ancaman.

”Indonesia itu milik semua, bukan hanya milik penguasa. Adalah hak kita untuk tegur ”buruh outsourcing” yang kita pilih lima tahunan sebagai penyelanggara negara ketika kerjanya tidak beres,” tandasnya dalam surat peryataan.

Ia menegaskan, kritik harusnya menjadi alarm yang membangunkan pemerintah dari tidur panjang. Sayangnya, sebagaimana para pemalas, pemerintah lebih senang menghentikan alarm itu supaya bisa lanjut tidur lagi – lalu bermimpi tentang Indonesia Emas 2045.

Bukan sekali ini saja kritik memperoleh ancaman dan intimidasi. Perilaku intimidatif sudah sejak era Orde Lama. Ingat, para seniman, musisi yang tidak sejalan dengan penguasa mendapat ancaman bahkan dijebloskan ke penjara.

Pada era Orde Lama ada Koes Plus, era Orde Baru ada Black Brothers yang minta suaka ke Belanda karena berada dalam ”tekanan” penguasa terkait isu Papua Merdeka. Masih di era Orde Baru, ada Bimbo, Elpamas dengan lagu legendaris ”Pak Tua”, Rhoma Irama dan Iwan Fals. Mereka banyak melantunkan lagu kritik sosial yang mendapat respons pelarangan tampil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *