Catra Budaya

‘Nggayuh Wahyu Tuk Pitu’,  Wujud Syukur Menjaga Sumber Kehidupan

catrawarta.com — Tradisi tahunan di Kabupaten Kulonprogo kembali diadakan, yakni pengambilan air suci dari Tuk Pitu di Padukuhan Kroco, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon...

Air dari tujuh tuk dikirab sebelum akhirnya disatukan dalam sebuah wadah tersendiri

catrawarta.comTradisi tahunan di Kabupaten Kulonprogo kembali diadakan, yakni pengambilan air suci dari Tuk Pitu di Padukuhan Kroco, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih. Upacara merawat kearifan lokal ini, selain melestarikan budaya, juga untuk menjaga kelestarian alam.

Mengusung tema ‘Nggayuh Wahyu Tuk Pitu’, warga setempat mengikuti prosesi tersebut hingga selesai.

Pengambilan air suci dari Tuk Pitu atau tujuh mata air yang tersebar di wilayah Padukuhan Kroco kemudian diarak bersama gunungan hasil bumi mengelilingi dusun. Setelah itu, air yang sudah tersimpan dalam tujuh kendi diserahkan kepada tokoh masyarakat untuk dimasukkan ke dalam satu wadah utama.

Dalam prosesi ini, Asisten Daerah 1 Setda Kulonprogo, Jazil Ambar Was’an turut menuangkan air dari kendi tersebut. Proses penyatuan tujuh mata air ini juga dilakukan Anggota DPRD Kulonprogo Pancar Topo Driyo, Panewu Pengasih beserta jajaran Forkompimkap, perwakilan Kundha Kabudayan Kulonprogo serta tokoh masyarakat setempat.

Cita-Cita Mulia

Asekda I Setda Kulonprogo Jazil Ambar mengapresiasi kemeriahan acara tersebut. Menurutnya, tema Nggayuh Wahyu Tuk Pitu mencerminkan cita-cita mulia yang harus dibarengi dengan usaha nyata.

“Kami dari pemerintah kabupaten ikut senang dengan kegiatan ini. Tema yang diusung merupakan cita-cita dan akan terwujud jika jangan hanya di angan-angan melainkan perlu persiapan dan dukungan. Kita semua harus berikhtiar agar Wahyu Tuk Pitu benar-benar bisa terwujud bagi kesejahteraan warga,” ucapnya.

Dirinya juga menekankan pentingnya menjaga sumber daya alam. Sumber air dari tujuh mata air di Kroco ini, konon tidak pernah kering, sehingga keberadaannya harus selalu dilindungi dan dilestarikan. “Kita bersyukur di sini banyak sumber air yang terjaga,” jelas Jazil.

Kalurahan Sendangsari sendiri sudah ditetapkan sebagai Desa Mandiri Budaya, masyarakat dituntut mampu berdiri di atas kaki sendiri dalam merawat tradisi.

Dukuh Kroco, Slamet Supriyono menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan agenda rutin setiap bulan Ruwah. Rangkaian acara meliputi kerja bakti lingkungan, pembersihan mata air di setiap RT, ziarah makam hingga puncaknya doa bersama dan arak-arakan sumber air Tuk Pitu. Harapannya dengan membersihkan setiap tahun kebersihan di sekitar tuk terus terjaga.

Merti padukuhan bukan sekadar pesta rakyat, melainkan upaya melestarikan kebudayaan dan pembersihan diri menjelang Bulan Ramadan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *