Warta

Pemkot Yogyakarta Libatkan 50 Lembaga untuk Bedah Rumah Warga

catrawarta.com — Kegiatan memperbaiki rumah tidak layak huni di Kota Yogyakarta dilakukan melalui semangat gotong royong. Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menggandeng sekitar...

Rumah yang telah diperbaiki dalam program bedah rumah pemkot yogyakarta
Rumah yang telah diperbaiki dalam program bedah rumah Pemkot Yogyakarta (Sumber : warta.jogjakota.go.id)

catrawarta.comKegiatan memperbaiki rumah tidak layak huni di Kota Yogyakarta dilakukan melalui semangat gotong royong. Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menggandeng sekitar 50 instansi terdiri dari perguruan tinggi, perusahaan, hingga komunitas masyarakat untuk bersama-sama membantu warga yang masih tinggal di rumah dengan kondisi kurang layak huni.

Dalam waktu sekitar 1 minggu sejak gerakan ini berjalan, dukungan yang terkumpul sudah cukup untuk membantu renovasi 22 rumah warga. Jumlah tersebut berasal dari partisipasi berbagai pihak yang ikut terlibat dalam program bedah rumah.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengatakan gerakan tersebut sengaja dibangun dengan mengedepankan keterlibatan masyarakat. Pemerintah, menurutnya, lebih berperan sebagai penghubung agar bantuan dari berbagai pihak bisa tepat sasaran.

“Ini betul-betul kegiatan dari warga untuk warga. Pemerintah hanya mengorkestrasi. Jadi, melalui gotong royong seperti ini ada manfaat yang langsung dirasakan,” kata Hasto Wardoyo pada penyerahan bantuan bedah rumah di Yogyakarta, Minggu (07/06/2026).

Pemkot Yogyakarta juga telah menuntaskan perbaikan delapan rumah melalui gerakan gotong royong masyarakat. Dengan tambahan dukungan terbaru, total 30 rumah tidak layak huni berhasil diperbaiki dalam satu bulan terakhir tanpa menggunakan APBD ataupun APBN.

“Kami mengimbau masyarakat dan para pengusaha untuk bersama-sama bergotong royong. Baru seminggu berjalan, sudah terkumpul bantuan untuk 22 rumah. Ini luar biasa, ada hasil yang dirasakan masyarakat,” katanya.

Menurut Hasto, program bedah rumah dipilih karena manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh warga. Program ini juga menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat.

Pemkot Yogyakarta menilai masih ada warga yang tinggal di rumah dengan kondisi memprihatinkan. Beberapa di antaranya dinilai tidak memenuhi standar kesehatan dan kenyamanan dasar.

“Masih ada rumah-rumah yang sangat tidak layak huni. Bahkan ada yang kondisinya lebih sehat berada di luar rumah daripada di dalam rumah. Karena itu bedah rumah menjadi salah satu prioritas yang terus kami dorong,” katanya.

Program lain yang dilaksanakan diantaranya kegiatan bersih sungai hingga pengumpulan dan pemilahan sampah. Langkah ini dilakukan untuk menumbuhkan optimisme bahwa sampah tidak selalu menjadi masalah, tetapi juga bisa memiliki nilai ekonomi bila dikelola dengan baik.

Salah satu contohnya terlihat pada rumah milik Sri Ponowati di Kelurahan Ngampilan, Kemantren Ngampilan. Rumah itu menjadi rumah pertama hasil program bedah rumah yang memanfaatkan material bangunan dari hasil pengolahan sampah. Sejumlah bagian rumah seperti atap, sebagian dinding, dan komponen bangunan lain dibuat menggunakan material konstruksi hasil daur ulang.

Program bedah rumah Pemkot Yogyakarta menjadi salah satu kegiatan dalam rangka Hari Jadi Ke-79 Kota Yogyakarta. Pemkot ingin peringatan hari jadi kota tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata yang langsung dirasakan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *