Warta

Usai Panen Raya, Kalipentung Bermimpi Miliki Alat Pertanian Modern

catrawarta.com — Predikat Desa Mandiri Benih diperoleh melalui jalan panjang dan tidak gampang. Inilah yang kini disandang Padukuhan Kalipentung, Kalitirto, Berbah, Sleman....

People ride on a white and red combine harvester with a red umbrella through a golden grain field under a blue sky
MODERN: Ilustrasi panen raya menggunakan mesin panen Combine Harvester atau "Combi" sangat efektif dan efisien.(Sumber: instagram novitapurwantiputri)

catrawarta.comPredikat Desa Mandiri Benih diperoleh melalui jalan panjang dan tidak gampang. Inilah yang kini disandang Padukuhan Kalipentung, Kalitirto, Berbah, Sleman. Setelah berhasil melakukan panen raya benih unggul dua bulan lalu, kini Kelompok Tani (Poktan) Sido Makmur membidik impian baru yakni swasembada alat mesin pertanian (alsintan) modern, khususnya mesin panen Combine Harvester atau “Combi”.

​Kepala Dukuh Kalipentung, Mujiharjo dalam keterangan tertulisnya menegaskan bahwa kemandirian benih yang saat ini dicapai baru memenuhi 50 persen dari pilar ketahanan pangan. Sisa tantangan terbesar ada pada efisiensi tata kelola lahan dan tingginya biaya produksi pasca-panen.

”Ketahanan pangan itu bukan soal apa yang dimakan, tetapi soal apa yang ditanam. Jika mandiri dalam benih, ketahanan pangan sudah mencapai 50 persen. Sisanya adalah soal tanah, air, pupuk, dan efisiensi kerja,” ujar Mujiharjo dikutip dari keterangannya kepada media.

Bantuan Stimulus dari Pemerintah

​Kisah sukses Kalipentung bermula pada Oktober 2025 saat Poktan Sido Makmur menerima bantuan stimulus pemerintah senilai Rp 68,3 juta untuk area sasar 10 hektare. Bantuan berupa benih, pupuk, dan pestisida difasilitasi oleh penangkar lokal PB Usaha Tani yang dipimpin Wijanarko Hari Suseno.

​Hasilnya nyata karena pada pertengahan April lalu, mereka sukses menggelar panen raya varietas Logawa (5 ha), Inpari 47 (3 ha), dan Situ Bagendit (2 ha). Capaian tersebut bahkan mendapat apresiasi langsung dari Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementan, Ladiyani Retno Widowati, serta jajaran dinas pertanian provinsi dan kabupaten. Kalipentung layak naik kelas menjadi pengembang benih bersertifikat.

​​Kini, fokus Poktan Sido Makmur beralih pada modernisasi alat. Dengan total lahan produktif mencapai 23 hektare yang digarap oleh 70 anggota poktan dan 25 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Adem Ayem, ketergantungan pada sewa alat dinilai sangat membebani kantong petani.

​Saat ini, biaya sewa alat panen mencapai Rp 300 ribu per 1.000 meter persegi. Jika dikalkulasi, Poktan Sido Makmur membutuhkan sedikitnya ​4 unit traktor tangan dan 1 unit mesin combi.

Tak Mungkin Tunai

​”Kami tidak mungkin membeli tunai, dan pinjam bank pun risikonya besar karena bunga tinggi. Kami berharap ada skema bantuan alsintan dari pemerintah, di mana biaya sewa yang biasa kami keluarkan bisa dialihkan untuk mengangsur mesin tersebut ke pemerintah,” papar Mujiharjo.

​Penggunaan mesin combi dinilai krusial karena mampu memotong, merontokkan, dan membersihkan gabah hanya dalam waktu 3 jam per hektare, sekaligus menekan angka kerugian (loss) hasil panen secara signifikan.

​​Pemerintah sendiri telah menjanjikan bonus bantuan senilai Rp 100 juta untuk pengembangan benih lanjutan, dengan syarat Sido Makmur konsisten menjaga kualitas kemandirian mereka.

​Mujiharjo optimistis, jika sinergi antara kemandirian benih dan modernisasi alsintan ini terwujud, kesejahteraan petani di Berbah akan meningkat drastis, sekaligus menjadi cetak biru ideal bagi ketahanan pangan tingkat desa di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *