catrawarta.com — Sebuah video beredar, memperlihatkan sejumlah ponton yang diduga sebagai alat tambang hanyut terbawa arus deras sungai yang keruh di kawasan Silokek, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, Rabu (13/5/26). Dalam video yang diunggah Akun Facebook Hari Ersandi diceritakan terlihat tiga orang pria berdiri di tepi sungai menyaksikan kejadian itu.
Ponton-ponton itu hanyut terbawa arus bersama material kayu. Informasi lain menerangkan hujan deras terjadi sejak Selasa malam (12/5/26) hingga Rabu (13/5/26) pagi menyebabkan debit air Batang Kuantan khususnya di sekitar Nagari silokek meningkat drastis.
Berita payakumbuh, menginformasikan sejumlah ponton dan mesin aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) hanyut terbawa banjir, Rabu (13/5/2026) dini hari.
“Sedikitnya 30 mesin PETI dilaporkan hanyut akibat arus sungai yang semakin deras dan meluap,” demikian akun FB berita payakumbuh menjelaskan.
Warga sekitar bantaran sungai hanya bisa menyaksikan ponton, drum, dan mesin tambang terbawa arus tanpa dapat melakukan penyelamatan.
Sebuah informasi menyebutkan kawasan Geopark Silokek yang membelah Batang Kuantan ini memang dikenal sering terjadi aktivitas tambang ilegal yang mengancam ekosistem.
Kawasan Geopark Silokek yang membelah Batang Kuantan ini memang dikenal sering mengalami pencemaran akibat aktivitas penambangan emas liar (PETI).
Meskipun memiliki potensi wisata alam luar biasa seperti tebing karst purba, keberadaan kapal penambang emas ilegal sering merusak ekosistem sungai dan mengancam kawasan Geopark Nasional tersebut.
Dalam konteks akademik, kasus Silokek bukan sekedar banjir yang menghanyutkan alat tambang. Namun contoh nyata krisis tata kelola lingkungan di kawasan Geopark yang seharusnya dilindungi.
Fenomena ini dapat dibaca sebagai gabungan krisis ekologi, ekonomi ilegal, dan lemahnya tata kelola sumber daya alam.

Dudung: Jangan Jadikan Program MBG ‘Ladang Bisnis’ Mengeruk Uang 