Catra Budaya

Dari Kampus ke Besalen: Menjaga Nyala Api Tradisi dari Yogyakarta

catrawarta.com — Di tengah geliat modernitas yang kian cepat, ada satu ruang budaya yang tetap teguh menjaga napas tradisi: Keris. Bukan sekadar...

Group of students and instructors pose outdoors holding a maroon banner for a cooperation signing event at a workshop venue in indonesia
Foto Bersama Mahasiswa Studi Ekskursi Prodi Keris ISI Surakarta di depan workshop SKM Yogyakarta. Foto: Haqi

catrawarta.comDi tengah geliat modernitas yang kian cepat, ada satu ruang budaya yang tetap teguh menjaga napas tradisi: Keris. Bukan sekadar senjata tradisional, keris adalah simbol peradaban, filosofi, spiritualitas, sekaligus karya seni adiluhung Nusantara. 

Pada Kamis, 30 April 2026, yang terik denyut pelestarian itu terasa hidup di Sanggar Keris Mataram (SKM) Yogyakarta saat menerima kunjungan akademik dari Mahasiswa dan Dosen Program Studi Senjata Tradisional Keris, Fakultas Seni Rupa dan Design, Institut Seni Indonesia (FSRD – ISI) Surakarta.

Kunjungan ini bukan sekadar agenda formal. Ia menjadi titik temu antara dunia akademik dan praktik nyata—sebuah jembatan penting dalam memastikan bahwa warisan budaya tak benda ini tetap relevan, hidup, dan berkembang di tangan generasi muda.

Tradisi Bertemu Akademisi

Siang itu, suasana di SKM Yogyakarta dipenuhi dialog hangat, rasa ingin tahu, dan semangat kolaborasi. Saat rombongan dari ISI Surakarta terdiri dari Ki Subandi Suponingrat, Dr. Kuntadi Wasi Darmojo, M.Sn, M. Ubaidul Izza, M.Sn, Cahya Surya Harsakya, M.Sn (Dosen Prodi Keris), Intan Anggun Pangestu, M.Sn dan Joko Prasetyo Utomo, S.Tr.Sn (Dosen Praktisi Keris), bersama Mahasiswa Prodi Keris, Semester II dan IV, yang berjumlah 20 orang. Mereka hadir bukan hanya untuk melihat, tetapi untuk memahami—bahwa keris tidak hanya dipelajari di ruang kelas, tetapi juga dihidupi dalam praktik keseharian.

Sanggar Keris Mataram membuka seluruh ruangnya sebagai media pembelajaran langsung. Mulai dari keberadaan sanggar utama, museum, galeri, besalen (tempat tempa keris), perpustakaan, hingga studio podcast dan bistro, semuanya menjadi bagian dari pengalaman edukatif yang utuh dan relevan dengan keberadaan Prodi Keris ISI Surakarta.

Para peserta diajak menyelami perjalanan keris dari bahan mentah hingga menjadi pusaka bernilai tinggi. Mereka melihat bagaimana logam ditempa, bagaimana filosofi diwujudkan dalam bentuk, hingga bagaimana keris dirawat dan dipresentasikan sebagai artefak budaya berikut pendukungnya.

Two men hammering glowing metal on an anvil in an outdoor workshop while sparks fly as onlookers stand behind a wooden barrier and sacks lie nearby far in the background
Mahasiswa Semester 2 Turun Langsung untuk Mencoba Ikut Menempa di Besalen SKM Yogyakarta. Foto: Haqi

Kunjungan ini menjadi momentum penting melalui penandatanganan kerja sama antara Program Studi Keris ISI Surakarta dan SKM Yogyakarta, yang membuka peluang penguatan pendidikan berbasis praktik. Meski studi ekskursi (luar ruang) sudah umum dalam dunia akademik, kegiatan ini menonjol karena interaksi yang lebih mendalam, di mana mahasiswa tidak hanya mengamati, tetapi juga dipersiapkan sebagai pelaku dalam ekosistem perkerisan.

Ketua Program Studi Senjata Tradisional Keris, ISI Surakarta, M. Ubaidul Izza, M.Sn, menegaskan bahwa kegiatan luar ruang seperti ini adalah bagian penting dari kurikulum. Ia menyebut bahwa mahasiswa perlu memahami realitas lapangan, termasuk peluang dan tantangan yang akan mereka hadapi setelah lulus.

Menurutnya, dunia kerja di bidang keris tidak sesempit yang dibayangkan. Selain menjadi empu atau perajin, lulusan juga memiliki peluang di berbagai bidang seperti edukasi, kurasi museum, konservasi, hingga industri kreatif berbasis budaya.

Ekosistem Pelestarian Budaya

Sanggar Keris Mataram yang berlokasi di Donotirto 9, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini bukan sekadar tempat produksi atau pameran keris. Ia adalah ekosistem pelestarian budaya yang hidup. Di dalamnya terdapat berbagai fungsi yang saling terhubung—mulai dari penciptaan, edukasi, konservasi, hingga promosi budaya.

Ketua SKM Yogyakarta, Ki Nurjianto, S.M, menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat penting dalam memperkuat visi mereka, yaitu pemberdayaan dan keberlangsungan keris gagrag Mataram sebagai bagian geo heritage.

“Kolaborasi dengan dunia akademik menjadi energi baru dalam pelestarian budaya. Tidak hanya sebagai bentuk transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai upaya membangun regenerasi pelaku budaya. Dalam konteks ini, kami di SKM Yogyakarta berperan sebagai living laboratory—tempat di mana teori diuji, praktik dikembangkan, dan nilai-nilai budaya ditanamkan secara langsung,” tandas pria yang lebih dikenal dengan Gus Poleng ini memberi pesan.

Salah satu isu utama dalam pelestarian keris adalah regenerasi. Banyak generasi muda yang belum melihat keris sebagai bidang yang menjanjikan secara profesional. Di sinilah peran institusi pendidikan dan komunitas budaya menjadi sangat penting.

Dr. Kuntadi Wasi Darmojo, M.Sn, sebagai staf pengajar sekaligus pendamping studi ekskursi, menekankan pentingnya membuka peluang seluas-luasnya bagi mahasiswa. Ia berharap lulusan Prodi Keris ISI Surakarta nantinya tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga siap bersaing di dunia kerja.

“Keberadaan SKM Yogyakarta dapat menjadi role model yang sangat edukatif dan representatif. Tidak hanya dalam hal kualitas karya, tetapi juga dalam pengelolaan ekosistem budaya yang berkelanjutan. Hal ini penting mengingat dunia perkerisan saat ini menghadapi berbagai tantangan—mulai dari minimnya regenerasi empu, terbatasnya pasar, hingga kurangnya pemahaman masyarakat terhadap nilai keris itu sendiri.”

Peluang Karier di Dunia Perkerisan

Salah satu hal menarik yang dibahas dalam kunjungan ini adalah ragam peluang karier bagi lulusan Prodi Keris. Ki Arya Pandhu, selaku Praktisi Keris juga Pengelola Museum dan Galeri Keris SKM Yogyakarta, menjelaskan bahwa bidang ini sebenarnya memiliki potensi yang luas.

Menurutnya, selain menjadi empu atau pembuat keris, ada banyak profesi lain yang bisa digeluti, seperti Edukator Budaya, yang mengajarkan nilai dan sejarah keris, Konservator, yang bertugas merawat dan melestarikan artefak, Registrator, yang mendokumentasikan koleksi secara sistematis, Kurator, yang menyeleksi dan mengkategorisasi koleksi, serta menyusun narasi pameran, bahkan Penulis atau Praktisi Promosi dan Publikasi, yang bisa mengangkat keris ke ruang publik modern.

“Peluang kerja bisa bersifat komersil maupun non-komersil, tergantung pada pendekatan dan minat masing-masing individu. Dengan kata lain, dunia perkerisan tidak lagi eksklusif atau terbatas. Kini keris telah menjelma dan berkembang sedemikian rupa dan menjadi bagian dari industri kreatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus budaya dan wisata dalam pemanfaatannya,” imbuhnya dengan nada serius.  

Di balik seluruh aktivitas ini, ada satu hal yang menjadi benang merah: keris sebagai identitas budaya. Namun, identitas ini tidak boleh statis. Ia harus terus beradaptasi dengan zaman. Kunjungan ini menunjukkan bahwa inovasi dalam pelestarian budaya bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi justru menguatkannya dengan pendekatan baru mengikuti jamannya.

“Melalui kolaborasi kolektif interdisipliner – multidisipliner antara akademisi dan praktisi, keris sebagai bagian dari pengetahuan tradisional, teknologi tradisional dan seni dapat diposisikan kembali sebagai bagian dari kehidupan modern. Tidak hanya sebagai benda koleksi, tetapi juga sebagai sumber inspirasi dalam seni, desain, dan bahkan gaya hidup,” pesannya lebih lanjut.

Membangun Masa Depan Keris

Pertemuan selama lebih kurang tiga jam yang intesif antara SKM Yogyakarta dan ISI Surakarta ini menjadi contoh nyata bagaimana sinergi dapat menciptakan dampak positif. Ia bukan hanya tentang satu kunjungan, tetapi tentang membangun jaringan, membuka peluang, dan menyalakan semangat baru.

Di tengah arus globalisasi, upaya seperti ini menjadi semakin penting. Karena tanpa regenerasi dan inovasi, warisan budaya bisa saja kehilangan relevansinya. Namun, dengan pendekatan yang tepat—seperti yang dilakukan oleh SKM Yogyakarta dan Prodi Keris ISI Surakarta—masa depan keris justru terlihat semakin menjanjikan.

Kunjungan ini, bisa jadi terasa singkat. Namun, dampaknya bisa jauh lebih panjang. Momentum ini ikut menanamkan kesadaran bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama—antara akademisi, praktisi, dan masyarakat luas. Keris bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah jembatan menuju masa depan untuk membangun peradaban mega diversity Nusantara.

Dan selama masih ada ruang untuk bisa secara bersama untuk membangun kesadaran, keterlibatan dan kepemilikan akan adat dan tradisi, seperti yang ada di Sanggar Keris Mataram, serta peran dari generasi muda yang mau belajar, nyala api tradisi itu akan terus hidup—menyala, berkembang, dalam memberi nilai dan makna tuntunan sejatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *