catrawarta.com — Di sebuah lorong sunyi di dusun Banyusumurup, Imogiri, Bantul—desa yang telah lama dikenal sebagai sentra perajin warangka keris—suara serut kayu terdengar lirih, nyaris seperti napas yang dijaga ritmenya. Di tempat itulah Sulistyo menekuni pekerjaannya merestorasi warangka lawas, sekaligus menghidupkan kembali jejak sejarah yang melekat pada sebilah keris.
Sulistyo bukan sekadar perajin. Banyak orang menyebutnya “tabib warangka”—sebuah julukan yang lahir dari ketelatenannya membaca usia, karakter, dan “rasa” kayu. Di bengkel kecil bertajuk Yessul Art, Sulistyo menangani warangka-warangka tua yang lapuk dimakan waktu, retak oleh perubahan cuaca, atau kusam karena kehilangan sentuhan perawatan. “Warangka itu bukan sekadar sarung keris. Ia bagian dari jiwa,” ujarnya pelan.
Kayu menjadi kunci utama dalam pekerjaannya. Untuk restorasi, ia kerap menggunakan kayu timoho—kayu khas Jawa yang dikenal memiliki motif alami menyerupai guratan batik. Seratnya yang unik memberi karakter tersendiri, sekaligus menandai status sosial pemiliknya di masa lalu.
Namun tidak semua warangka bisa diselamatkan hanya dengan timoho. Dalam beberapa kasus, Sulistyo menggunakan kayu cendana—material yang lebih halus, beraroma khas, dan memiliki nilai prestise tinggi. Ia menyebut cendana dari Nusa Tenggara Timur sebagai yang terbaik. “Seratnya padat, aromanya tahan lama. Itu bukan sekadar kayu, tapi warisan,” katanya.
Ada pula kayu trembalo dari Aceh—material yang dahulu masuk melalui jalur perdagangan Tionghoa. Kayu ini memiliki karakter keras dan tahan lama, mencerminkan jejak interaksi budaya yang panjang antara Nusantara dan dunia luar. Bagi Sulistyo, setiap jenis kayu bukan hanya bahan, melainkan narasi sejarah.
Proses restorasi tidak pernah instan. Ia dimulai dari membaca struktur warangka lama, menyesuaikan potongan kayu baru, hingga menyatukan kembali bagian yang retak tanpa menghilangkan keaslian bentuknya. Di tangan Sulistyo, warangka tidak dipoles menjadi “baru”, melainkan dikembalikan pada martabat lamanya.
Pasarnya pun tidak sempit. Kolektor dan pecinta keris datang dari berbagai daerah: Jakarta, Kalimantan Timur, hingga Yogyakarta sendiri. Mereka tidak hanya membeli produk, tetapi juga mempercayakan pusaka keluarga untuk dirawat.
Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp200 ribu hingga Rp5 juta, tergantung jenis kayu, tingkat kerumitan, serta nilai historis warangka tersebut. Namun bagi banyak pelanggan, nilai itu bukan sekadar angka.
Di tengah gempuran industri modern dan produk massal, kerja Sulistyo menghadirkan perlawanan sunyi: menjaga tradisi tetap bernyawa. Ia merawat bukan hanya benda, tetapi juga ingatan—tentang leluhur, tentang perjalanan budaya, dan tentang makna sebuah pusaka dalam kehidupan orang Jawa.

Di Banyusumurup, di antara serpihan kayu dan aroma cendana, warangka-warangka tua itu menemukan hidupnya kembali. Dan Sulistyo, dengan tangan terampil dan kesabaran panjang, terus meneguhkan satu hal: bahwa tradisi tidak pernah benar-benar usang—ia hanya menunggu untuk dirawat.

Pendidikan Hak Dasar Manusia, Cegah Putus Sekolah dan Perkawinan Anak 