Catra Budaya, Warta

Saat Taman Kartini Kembali Berbunga di Rembang

catrawarta.com — Hari ini, 21 April mari mengenang tokoh perempuan yang menjadi spirit dan insipirasi kaum Hawa negeri ini, siapa lagi kalau...

Marble tomb with a draped sculpture on top inside a gated shrine with a vase of red and white flowers nearby
Pusara RA Kartini di pemakaman keluarga di Desa Bulu,Kecamatan Bulu,Kabupaten Rembang selalu ramai peziarah, lebih-lebih bulan April. (Istimewa)

catrawarta.comHari ini, 21 April mari mengenang tokoh perempuan yang menjadi spirit dan insipirasi kaum Hawa negeri ini, siapa lagi kalau bukan RA Kartini. Nama yang seolah tak pernah habis untuk dikupas.

Kini, di sebuah sudut Museum Raden Ayu Kartini di Rembang, jejak masa lalu perlahan dihidupkan kembali. Bukan hanya melalui koleksi benda bersejarah, tetapi juga lewat hamparan taman yang kini kembali menghijau. Taman itu bukan sekadar ruang terbuka, melainkan potongan kisah dari kehidupan Kartini saat tinggal di Rembang lebih dari seabad lalu.

Kisah ini berawal dari sebuah surat yang ditulis Kartini pada Desember 1903. Dalam surat tersebut, ia mencurahkan kebahagiaannya setelah menjadi Raden Ayu. Ia bercerita tentang rumahnya yang indah, lengkap dengan taman tempat ia memetik bunga setiap hari untuk menghiasi rumahnya.

Program Revitalisasi

Namun, waktu mengubah banyak hal. Taman yang dulu digambarkan Kartini sempat terbengkalai, tanahnya kering dan vegetasinya nyaris hilang. Baru pada 2025, taman itu mulai mendapatkan perhatian kembali melalui program revitalisasi yang digagas  Djarum Foundation, lembaga yang aktif dalam pelestarian lingkungan.

Sub Koordinator Sejarah, Museum, dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rembang, Retna Dyah Radityawati, menjelaskan, ide revitalisasi berangkat dari surat Kartini kepada sahabatnya. “Pada Desember 1903, saat beliau sudah berada di Rembang, Kartini menulis tentang kebahagiaannya sebagai seorang Raden Ayu. Ia merasa sangat bahagia memiliki rumah yang indah dengan taman, tempat ia setiap hari memetik bunga,” ujar Retna.

Berangkat dari kisah tersebut, pihak museum berinisiatif merekonstruksi taman agar menyerupai kondisi pada masa Kartini tinggal di Rembang. Konsep taman tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga menghidupkan kembali fungsi alami tanaman sebagai sumber aroma terapi.

Upaya ini kemudian mendapat dukungan dari Djarum Foundation. Menariknya, Museum RA Kartini menjadi yang pertama dalam program penghijauan lembaga tersebut yang menyasar museum, setelah sebelumnya lebih banyak dilakukan di kawasan candi seperti Prambanan dan sejumlah situs lain di Jawa Tengah.

Konsep Apotek Hidup

Selain menghadirkan bunga-bunga yang disebut dalam surat Kartini, seperti melati, mawar Prancis, dan lili Paris, revitalisasi taman juga dilengkapi dengan konsep ‘apotek hidup’. Konsep ini diadaptasi dari budaya rumah Jawa yang lazim menanam tanaman obat di pekarangan.

“Memang apotek hidup tidak disebutkan dalam surat Kartini, tetapi kami mengaitkannya dengan tradisi rumah Jawa. Apalagi, banyak resep khas Jepara yang menggunakan bahan seperti kapulaga dan jahe,” tambah Retna sebagaimana dilansir Kedaulatan Rakyat.

Meski menghadapi tantangan berupa kondisi tanah yang cenderung tandus, pihak museum tetap optimistis. Dengan pendampingan intensif dari tim Djarum Foundation, proses penanaman hingga perawatan terus dilakukan agar tanaman dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik.

Di tengah upaya pelestarian sejarah ini, taman tersebut menghadirkan cara baru untuk mengenang Kartini, bukan hanya sebagai tokoh emansipasi, tetapi juga sebagai perempuan yang menemukan kebahagiaan sederhana dari bunga yang dipetiknya sendiri dan dari alam yang mengelilinginya. “Ibu kita Kartini//Putri sejati//Putri Indonesia//Harum namanya…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *