Catra Milenia

Melihat Karya Anak SMK, Helai Benang dan Aksen Tali Metafora Perjalanan Manusia

catrawarta.com — Gaya modis dan elegan melalui siluet longgar dengan struktur tegas, sehingga tetap mempertahankan bentuk yang anggun. Di sisi lain, perpaduan...

Thread of Destiny, karya siswa jurusan Desain dan Produksi Busana (DPB) SMK Unggulan An-Nawawi Purworejo saat tampil di ajang Modest Style Runway, Main Atrium, Ground Floor, Plaza Ambarrukmo, Yogyakarta. (Istimewa)

catrawarta.comGaya modis dan elegan melalui siluet longgar dengan struktur tegas, sehingga tetap mempertahankan bentuk yang anggun. Di sisi lain, perpaduan palet warna midnight blue dan deep black menghadirkan kesan tenang, kuat dan berwibawa. Itulah Thread of Destiny .

Busana rancangan di bawah naungan brand Kanamli ini merupakan refleksi tentang manusia sebagai perancang bagi hidupnya sendiri. Rancangan tersebut ditampilkan dengan apik oleh siswa jurusan Desain dan Produksi Busana (DPB) SMK Unggulan An-Nawawi Purworejo Jawa Tengah yang ambil bagian dalam ajang ‘Modest Style Runway’ di Main Atrium, Ground Floor, Plaza Ambarrukmo, Yogyakarta.

“Koleksi ini adalah persembahan bagi individu yang menghargai segala warna warni hidup. Namun, tetap tampil dengan kendali penuh. Pada akhirnya, kita sendirilah yang merajut pengalaman menjadi satu kesatuan yang indah,” ucap pendamping busana kreatif SMK Unggulan An-Nawawi Purworejo yang juga owner Li Scarf, Irun Maulana, Sabtu (7/3/2026).

Dijelaskan, di ajang tersebut, ditunjukkan enam busana yang ditampilkan siswa SMK Unggulan An-Nawawi Purworejo. Melihat karya tersebut sudah cukup jelas menjadikan setiap helai benang dan aksen tali sebagai metafora perjalanan hidup manusia. Takdir, digambarkan seperti seutas tali panjang, terkadang lurus dan tenang. 

Namun, di saat lain melilit, bersimpul, bahkan berpapasan dengan garis hidup orang lain. Elemen tali dan ikatan dalam koleksi ini bukan sekadar ornamen, melainkan simbol garis waktu, koneksi dan perjumpaan antar kehidupan.

Gaya modis dan elegan menampilkan busana dengan siluet longgar dengan struktur tegas yang tetap menjaga bentuk dan keanggunan. Terlihat, ruang gerak perempuan dihormati tanpa kehilangan aura elegan yang kuat. Palet warna midnight blue yang menenangkan dipadukan dengan deep black yang otoritatif, menciptakan kesan misterius, namun terhormat. 

“Perpaduan hitam dan biru dalam busana tersebut merepresentasikan kepercayaan diri yang tenang, sosok yang memiliki kendali penuh atas dirinya tanpa perlu tampil mencolok,” jelas Irun Maulana.

Sementara itu, Kepala SMK Unggulan An-Nawawi Purworejo, Achmad Abdul Fatah menambahkan, menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi SMK Unggulan An-Nawawi Purworejo bisa ikut dalam Acara ‘Modest Style Runway’, yang merupakan kolaborasi antara Indonesian Fashion Chamber (IFC) Jogja dan Plaza Ambarrukmo. 

“Keikutsertaan anak-anak menjadi ruang pembelajaran nyata di industri kreatif. Kami ingin siswa tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga memiliki mental profesional dan keberanian tampil. Ini adalah pembuktian, karya anak SMK memiliki kualitas dan identitas yang begitu khas, mengingat sekolah kami yang berbasis pondok pesantren,” katanya bangga.

Menurut Abdul Fatah, Kanamli merupakan brand resmi milik SMK Unggulan An-Nawawi Purworejo. Nama Kanamli berasal dari bahasa Arab Kanamlin yang berarti (seperti semut), Filosofi tersebut menggambarkan semangat kerja sama, etos kerja tinggi, dan kekompakan layaknya semut yang bergerak bersama mencapai tujuan.

“Threadof Destiny kali ini anak-anak benar-benar tidak hanya menampilkan busana, tetapi juga menyampaikan pesan, hidup seperti benang dan simpul, hidup itu sendiri adalah proses merajut makna dengan kesadaran dan kendali penuh,” tandasnya.

Seperti diketahui, Modest Style Runway 2026 ini terselenggara atas kerja sama Indonesian Fashion Chamber (IFC) Chapter Jogja dan Plaza Ambarrukmo. Digelar sebagai bagian spesial dari rangkaian perayaan XX Anniversary Plaza Ambarrukmo.

Mengusung Tema ‘Swarna Citta’, event ini tidak hanya sekadar panggung peraga busana, tetapi juga menjadi simbol kemuliaan nilai dan kesadaran dalam berkarya. Ketua IFC Jogja, Wening Angga, menegaskan, agenda ini adalah upaya nyata untuk membangun ekosistem fashion yang sehat dan berkelanjutan di Yogyakarta.

Wakil Ketua Dekranas Sleman, Sari Danang saat berkesempatan membuka acara mengungkapkan, kegiatan ini menjadi panggung eksplorasi tekstur dan interpretasi modern atas wastra Nusantara. “Lantai runway ini menjadi saksi bisu kreativitas tanpa batas,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *