catrawarta.com — Sekolah-sekolah yang dikelola yayasan atau organisasi biasanya memiliki mata pelajaran khusus yang dibuat. Misalnya, Muhammadiyah terdapat mata pelajaran Kemuhammadiyaan. Begitu pula Tamansiswa juga ada muatan pelajaran yang berkaitan dengan Tamansiswa .
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pun pada tahun ajaran baru nanti akan memasukkan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ). Hal itu menjadi keinginan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X saat bertemu Dewan Pendidikan DIY di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan.
Dalam pertemuan itu Dewan Pendidikan DIY melaporkan pelaksanaan PKJ yang sudah dimulai sejak 2024 lalu di sebagian sekolah di DIY. Sultan mengharapkan agar PKJ dapat segera diberlakukan di semua sekolah maupun perguruan tinggi di DIY.
Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) adalah program pendidikan karakter berbasis budaya lokal yang diinisiasi oleh Pemda DIY (diluncurkan 2023) untuk PAUD-Perguruan Tinggi. PKJ mengintegrasikan nilai-nilai luhur Yogyakarta, seperti Ngajeni (menghormati) dan filosofi luhur ke dalam meta pelajaran yang ada untuk membentuk generasi Jalma Kang Utama, yang cerdas dan beradab.
“Memang harus kami akui pelaksanaan PKJ belum di semua sekolah. Kami tentu perlu behati-hati dan melakukan uji coba. Kami diminta untuk segera ada kepyakan atau peresmian untuk dilakukan di semua sekolah, mulai dari tingkat PAUD, SD, SMP, SMA/SMK dan perguruan tinggi,” kata Ketua Dewan Pendidikan DIY, Sutrisna Wibawa seusai bertemu Gubernur DIY Sri Sultan HB X di Gedhong Wilis.
Sutrisna mengatakan, dari hasil evaluasi terhadap uji coba PKJ di 10 sekolah, menunjukkan pengaruh yang cukup baik terhadap karakter peserta didik. Dalam indikator pengukuran karakter, dengan skala 1 sampai 5, nilai rata-rata berada di angka 4,1.
Sutrisna menjelaskan, PKJ adalah pendidikan tentang nilai-nilai Jogja yang terkait dengan karakter. Perumusan PKJ merupakan tindak lanjut dari pidato Gubernur DIY di tahun 2019 tentang pendidikan khas kebudayaan.
Meski menyandang istilah pendidikan, namun PKJ bukanlah mata pelajaran baru yang akan ditambahkan. PKJ lebih kepada keilmuan yang disisipi dalam mata pelajaran yang sudah ada selama ini. Misalnya saja masuk dalam pelajaran Bahasa Jawa karena mungkin itu yang paling mudah.
“Tapi banyak juga materi PKJ yang dapat disisipkan pada mata pelajaran lain, misalnya pendidikan agama, di mana filosofi sankan paraning dumadi tentang asal usul dan tujuan manusia diciptakan. Begitu pula dengan pelajaran Bahasa Indonesia atau IPS yang dapat disisipi wacana-wacana Yogya,” jelasnya.
Menurutnya, untuk tingkat perguruan tinggi, PKJ dapat diberikan mulai dari pengenalan kampus. Apalagi saat ini sudah ada beberapa perguruan tinggi yang melakukannya. Pihaknya berharap ke depan semakin banyak penggalian terhadap nilai dan budaya Jogja dari sisi keilmuan.
“Saat ini buku PKJ maupun media-media pembelajarannya sudah siap. Kami juga sudah menyiapkan serangkaian bimbingan teknis dan akan terus berlanjut kami lakukan,” terangnya.

Menhub & Menkopolkam, Bahas Penguatan Antisipasi Titik Rawan Lebaran 